Panas pada anak bisa terjadi kapan saja, baik itu karena kecapean atau sehabis imunisasi. Jadi bagi orang tua khususnya bunda apabila anak panas tidak perlu panik tinggal bagaimana penanganannya dan pengobatannya.
Sebagai orang tua khususnya bunda memang harus mengetahui cara menurunkan panas dan penanganan pasca imunisasi. Untuk beberapa kali semenjak lahir, seorang anak dibawah lima tahun atau balita akan menjalani beberapa kali pemberian imunisasi dengan tujuan memberikan sistem kekebalan tubuh secara mandiri terhadap penyakit. Berkembangnya beberapa penyakit memang harus segera di proteksi dengan pemberian imunisasi.
Imunisasi pada Balita idealnya minimal setahun setelah balita lahir. Efek yang ditimbulkan oleh imunisasi juga sangat beragam, salah satunya adalah tubuh bayi akan mengalami demam sebagai respon akan sistem imun tubuh yang bereaksi terhadap suntikan. Dan terkadang kondisi demam ini menjadi salah penanganan apabila bunda atau orang tua tidak mengerti atau tahu apa yang harus di lakukan.
Beberapa hal yang harus dan perlu diketahui sebagai orangtua mengenai panas demam setelah imunisasi bukanlah penyakit utama, kondisi ini merupakan reaksi dari tubuh alamiah terhadap suatu penyakit terutama setelah menerima suntikan imunisasi. Jadi panas yang di timbulkan balita merupakan hal yang lumrah.
Panas demam setelah imunisasi bisa pertanda tubuh sedang melawan infeksi atau memproteksi diri karena suhu yang tinggi tersebut memperlambat pertumbuhan bakteri ataupun virus.
Oleh karena itu usaha mengatasi demam yang salah bisa memperpanjang masa sakit. Hal ini berbeda dengan pendapat orangtua sebelumnya bahwa demam bisa memperburuk suatu kondisi penyakit ataupun berdampak buruk secara umum terhadap anak mereka. Banyak orangtua juga mencemaskan kondisi panas yang menimbulkan kejang demam. Obat penurun panas tidak terbukti dapat mencegah terjadinya kejang demam. Kejang (jika terjadi) biasanya disebabkan oleh kenaikan suhu tubuh yang pesat di tahap awal infeksi, seringkali sebelum para orangtua menyadari anaknya terkena demam.
Pada balita dan Anak titik kritis panas tubuh adalah 38 derajat Celcius. Sedangkan pada orang dewasa, suhu 39,4. Pada titik suhu seperti ini sebaiknya harus diwaspadai. Untuk menurunkan panas tubuh dapat diberikan obat penurun panas. Obat obat penurun panas ini bersifat sementara karena panas yang ada pada tubuh tidak langsung menghilang.
Namun perlu juga dilakukan kompres. Tujuan dari pengompresan adalah mengurangi panas secara perlahan lahan sambil menunggu reaksi dari obat penurun panas.
Ada 2 jenis kompres, yaitu kompres panas dan kompres dingin. Diantara kedua hal tersebut, mana yang paling tepat?
Kompres dingin untuk penanganan panas anak setelah imunisasi dianggap tidak tepat. Kompres dingin tidak direkomendasikan untuk mengatasi demam karena dapat meningkatkan pusat pengatur suhu (set point) hipotalamus, dan kenyaman balita pun akan sedikit terganggu dengan metode kompres dingin. Kompres dingin juga mengakibatkan badan menggigil sehingga terjadi kenaikan suhu tubuh.
Kompres dingin malah ibu dan orang tua menggunakannnya pada pola tetsebut tidak dianjurkan.
Berbeda Dengan metode kompres panas. Dimana tubuh akan dirangsang untuk mengeluarkan keringat. Jika keringat telah dirangsang keluar, secara alami suhu tubuh akan turun. Penggunaan kompres panas selama kurang lebih 10-15 menit akan membuka pori-pori dan mengeluarkan keringat sehinggga panas tubuh berkurang melalui proses penguapan. Dan sedikit demi sedikit panas pada balita akan berangsur angsur hilang.
Semoga sedikit artikel ini bisa memberikan pencerahan pada bunda dan orang tua. Untuk cara pemberian kompres panas yang baik akan di artikel selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar